Motret Human Interest, Malah Dikira Penculik Anak

Motret Human Interest, Malah Dikira Penculik Anak


Memanfaatkan Cahaya Matahari Pagi





Pagi itu sungguh cerah, pukul 05.30 WIB, dengan berbekal kamera tuaku DSLR Canon 600D dengan lensa prime 24mm 2.8 STM, aku berangkat dari rumah menunggangi motor matic menuju suatu desa kecil di pinggiran Kabupaten Jember, Jawa Timur. Blusukan mencari spot dan momen aktifitas masyarakat desa pada umumnya. Ditemani embun pagi dan dihibur oleh suara burung di pagi hari, aku terus menyisiri tiap sudut desa tersebut. Pemukiman penduduk, tanah kosong, jalanan desa, hingga persawahan. Selain udara sejuk khas pedesaan, hal lain yang membuat aku berada dalam kebahagiaan ketika ada di suasana seperti itu adalah saat hati spontan berucap bahagia.





"Jadi ini Fajar, yang katanya indah itu?"





Melanjutkan blusukan tersebut, pandanganku difokuskan oleh ibu-ibu petani yang sedang berjalan ke arah Timur menyusuri jalan setapak di persawahan tersebut. Ketika fajar menyinari mereka, backlight yang membuat mereka tampak siluet dan dihiasi warna merah oranye yang merona dan biru langit yang elegan.





Selalu Ada Momen Unik





Salah satu alasan aku selalu dapat menikmati motret human interest adalah selain mengabadikan momen unik dan menarik dari manusia, aku bahagia bisa berinteraksi dengan orang asing, meskipun sekedar basa basi tapi itu cukup menghiburku karena momen-momen lucu seringkali tercipta di saat-saat seperti itu. Ibu-ibu petani tersebut menegurku lebih dulu.





"Le, sampeyan wartawan ta?" (Nak, kamu wartawan kah?)

"Masuk TV yo? kapan tayange?" (Masuk TV ya? Tayangnya kapan?)

"Ayo-ayo fotoen aku le" (Ayo fotoin aku nak)

"Hahahaha"





Ibu-ibu petani
Motret Human Interest Dengan Subjek Ibu Petani
Dokumentasi Pribadi (Instagram : @irawan.cand)




Petani
Dokumentasi Pribadi (Instagram : @irawan.cand)




Selalu Ada Kejutan





Pukul 06.32 WIB, Matahari dengan wibawanya terus naik dan semakin menerangi desa itu. Setelah berpamitan dengan Ibu Petani tersebut aku langsung melanjutkan hunting spot. Perlahan aku menyusuri jalanan desa, tak tahu arah dan tujuan. Tapi suatu pemandangan indah didepan mata memaksaku menarik tuas rem hingga kendaraanku terhenti disuatu titik. Tidak asing, ini daerah sekitar rumah budheku. Di jalan desa itu aku diam dan menikmati keindahan cahaya matahari menembus embun pagi hingga tercipta karya sentuhan Tuhan yang indah itu, Ray of Light. Saat itu aku berpikir untuk mencari subjek foto berlatar belakang pemandangan itu, sehingga membuatku menunggu beberapa saat.





Ray of Light
Dokumentasi Pribadi (Instagram : @irawan.cand)




Pukul 06.53 WIB, Sinar mentari semakin kuat, hampir 30 menit aku diam menunggu di tempat yang sama, tetapi tak ada satupun subjek yang melintasi jalan yang sepi itu. Sejatinya kesedihan terasa saat itu, dengan berbagai perasaan, aku memutuskan untuk meninggalkan lokasi tersebut. Beberapa puluh meter dari lokasi itu aku melihat dua anak berusia sekitar 7-9 tahun, mereka berdua sedang tertawa lepas sambil mengayuh pedal sepeda kecilnya. Saat mereka terhenti, aku mendatangi mereka sambil mengajak mereka untuk menjadi subjek fotoku di spot sebelumnya, mereka tampak tak percaya sehingga aku berusaha meyakinkan mereka dengan menunjukkan kameraku pada mereka. Mereka diam, aku ragu mereka tak mengerti maksud ajakanku, tapi ternyata dugaanku salah, mereka menolak ajakanku dengan menggelengkan kepalanya lalu pergi dari hadapanku. Double Kill.





Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga





Baca Juga : Bermacam Genre Fotografi





Usaha Ditambah Do'a Sama Dengan Hasil





Sebagai manusia rendah yang beragama, aku berdo'a agar Tuhan menurunkan sedikit bentuk keberuntungan untukku saat itu. Dan benar saja, setelah ditolak anak-anak kecil itu, aku kembali ke spot sebelumnya, melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu dan tak tahu kapan datangnya. Beberapa menit, aku menyerah, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Di perjalanan, aku melihat dua anak kecil tadi untuk kedua kalinya. Aku mencobanya mengajaknya lagi, dan ternyata mereka mau. Aku melakukan treatment seperti biasanya, basa-basi, menanyakan informasi umum tentang nama, sekolah, dan tempat tinggalnya. Dari situlah aku tahu bahwa nama mereka adalah Nando dan Akmal. Setelah sampai di spot emas itu, aku mengarahkan mereka dan memotretnya. Sempat gagal dan diulang beberapa kali, hingga akhirnya lahir salah satu foto human interest terbaikku.





Human Interest Padomasan
Dokumentasi Pribadi (Instagram : @irawan.cand)




Setelah sesi foto singkat itu selesai, aku berterimakasih kepada mereka berdua, kemudian pulang dengan perasaan bahagia setengah mati setelah melihat foto indah di layar kamera tuaku. Setelah tiba dirumah, tanpa pikir panjang dan dengan perasaan tak sabar, aku mengolahnya di dapur editing. Sebelum dan setelah masuk dapur editing, tak jago, seadanya dan sesuai selera. Aku suka motret human interest.





Before After
Dokumentasi Pribadi (Instagram : @irawan.cand)




Setelah aku upload di akun instagram pribadi @irawan.cand, serta banyak akun memfitur foto tersebut dengan melakukan repost, beberapa bulan berlalu. Suatu hari, aku berkunjung ke rumah Budheku di desa tempatku blusukan saat itu. Sambil menunjukkan cetakan foto, aku menceritakan pengalamanku memotret dua anak kecil didekat rumahnya. Budheku merespon dengan ceritanya, beliau mengenal subjek fotoku itu. Beliau mengatakan kepadaku bahwa dua anak kecil yang ada dalam foto tersebut saat itu sedang tinggal bersama neneknya saja. Orang tuanya pergi merantau keluar kota.





Dikira Penculik





Akmal dan Nando ternyata juga sempat menceritakan pengalamannya tentang pemotretan bersamaku saat itu, nenek mereka meresponnya dengan perasaan khawatir dan curiga sehingga meminta Nanda dan Akmal untuk mendeskripsikan orang yang memotretnya. Neneknya kaget dan takut, hingga benar-benar khawatir setelah mendengar cerita dari dua cucunya yang masih kecil karena sang nenek mendengar bahwa orang yang memotret cucunya berpakaian seperti penjahat, sehingga ia mengira cucunya sudah dibidik dan dijadikan target penculikan. Karena hal itu, sang nenek melarang kedua cucunya untuk tidak keluar rumah hingga seminggu.





Mendengar cerita dari budhe, aku cukup terkejut sambil lalu mengingat-ngingat pakaian yang aku kenakan saat itu. Sepatu boots karet, training abu-abu, dan jaket riding warna hitam yang membuat nenek dari Akmal dan Nando berpikiran bahwa cucunya difoto oleh penculik. Beberapa saat setelah obrolanku dengan Budhe, ia pun mengklarifikasikan kepada nenek Akmal dan Nando, bahwasanya orang yang memotret cucunya bukan penjahat, melainkan keponakan dari Budhe. Terimakasih Budhe. Benar-benar human interest.





Fotografi human interest selalu mampu menghibur diri sendiri, menciptakan nikmat tersendiri. Mampu melahirkan karya indah penuh cerita.

Candra Irawan